author Hub Kami: 0857-5893-5966

Bandingkan daftar

Pelonggaran LTV- Sosialisasi Kebijakan Makroprudensial Sektor Properti di Provinsi Lampung

Pelonggaran LTV- Sosialisasi Kebijakan Makroprudensial Sektor Properti di Provinsi Lampung

Sosialiasi Pelonggaran LTV – Kebijakan Makroprudensial di Sektor Properti oleh Bank Indonesia

Pada hari Selasa tanggal 5 November 2019, Bank Indonesia menyelenggarakan acara sosialisasi kebijakan makroprudensial berupa “pelonggaran LTV/FTV“. Bertempat di ball room hotel Novotel Lampung. REI sebagai asosiasi pengusaha real estate properti mendapat porsi besar undangan sebagai wadah pelaku usaha properti. Karena kebijakan ini utamanya ditujukan kepada kredit properti dan pembiayaan kendaraan bermotor.

Tampak banyak tamu penting yang mewakili pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Daerah Lampung, kalangan pemimpin Bank-Bank se-Lampung, Lembaga pembiayaan, para akademisi, dan para pihak pelaku usaha lainnya. Bahkan banyak dari luar Propinsi Lampung, antara lain Ketua DPD REI Batam dan pihak terkait dari Babel dan Medan. Mungkin mengingat pentingnya kebijakan ini.

Acara sosialisasi di buka tepat pukul 9.00 dengan doa dan diteruskan sambutan dan pembukan secara resmi oleh Kepala Bank Indonesia KPw Provinsi Lampung, Budiharto Setyawan.

Pada sambutannya, beliau menyampaikan, selain sosialisasi makroprudensial di sektor properti, juga akan disosialisasikan akan adanya pelonggaran khusus bagi properti yang berwawasan lingkungan.

Tentang bagaimana kebijakan LTV ini diambil oleh Bank Indonesia, akan disampaikan oleh pemateri utama yaitu Direktur sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Makro Prudential BI, Retno Ponco Windarti. Diakhiri dengan pantun yang mendapat tepuk tangan riuh dari peserta, Beliau menyampaikan, agar pelonggaran LTV ini agar dapat membawa kemajuan (ekonomi).

Jalannya Sosialiasi Kebijakan Makroprudensial di Sektor Properti Provinsi Lampung

Acara kemudian dipandu oleh sekretaris ISEI Lampung (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia), yang juga dosen pengajar di Universitas Lampung, Dr. Usep Syaipudin, S.E., M.S.Ak.

Pemateri ke-2 yaitu, Ketua Green Building Council Indonesia ( GBCI), Ir. Iwan Prijanto, MM, GP, yang akan berbicara tentang bangunan berwawasan lingkungan (green building). Dan pemateri ke-3 yaitu Ketua Umum ISEI Lampung, Dr. Ayi Ahadiat, S.E., MBA, yang akan menanggapi kebijakan LTV dari Bank Indonesia.

Ekonom senior Bank Indonesia, Retno Ponco Windarti menyatakan bahwa kondisi perekonomian global sedang mendung. Hal tersebut ditandai dengan pertumbuhan ekonomi global yang melambat di hampir semua negara. Berimbas dari kebijakan Presiden Trump terhadap China. Efek yang jelas adalah volume perdagangan dunia dan harga komoditas turun.

Keadaan ini direspon dengan negara di dunia dengan mengeluarkan kebijakan moneter masing-masing negara. Khusus di Indonesia, juga berimbas dan mungkin sedang masing-masing kita rasakan.

Namun banyak hal yang masih positif perlu ditandai dengan optimis di Negeri ini, antara lain:
1. Sebagai negara berkembang (Emerging Market Economy/EME) atau negara dengan ekonomi rendah menuju ke level menengah pendapatan per kapita, dana dari luar negeri masih terus masuk. Dana masuk ini sebagai tanda bahwa Indonesia masih dilirik pemodal Luar Negeri untuk tumbuh dan aman.
2. Pertumbuhan ekonomi tidak begitu tinggi dan meleset dari target, ditargetkan 5,5% namun mencapai 5%, namun masih tinggi dibandingkan pertumbuhan negara-negara lain.
3. Neraca Pembayaran Indonesia membaik.
4. Cadangan Devisa Tetap Tinggi.
5. Nilai Tukar Rupiah relatif stabil.
6. Inflasi terkendali pada level yang rendah dan stabil.
7. Ketahanan Permodalan Perbankan masih tinggi disertai likuiditas yang terjaga.
8. Resiko kredit perbankan terkendali.

Namun PERTUMBUHAN KREDIT MELAMBAT. Terutama kredit konsumsi perumahan. Melihat keadaan ini, Bank telah melakukan kajian-kajian dan memutuskan mengeluarkan banyak kebijakan untuk memacu pertumbuhan kredit.

Salah satunya pada tahun 2019, telah 4 kali melakukan kelonggaran loan to value (LTV) agar uang muka mendapatkan kredit menjadi lebih kecil. Dan membuat kebijakan kembali melonggarkan LTV sebesar 5% berlaku mulai tanggal 2 Desember 2019. (materi tentang kelonggaran LTV dapat diunduh pada bagian bawah artikel ini).

Disampaikan, “dengan adanya Kelonggaran LTV diharapkan para pelaku bisnis, terutama bidang properti segera bisa menyikapi kebijakan ini”.

Sedangkan pemateri ke-2 berbicara tentang pentingnya perlakuan kita terhadap lingkungan. Keadaan kualitas bumi saat ini sudah pada konsidi yang mengancam eksitensi manusia itu sendiri. Prediksi banyak hal mengerikan akan terjadi jika perbaikan-perbaikan tidak segera dilakukan. Contoh, matinya semua terumbu karang pada 2100, yang tentunya berefek kepada matinya kehidupan laut . Contoh lainnya, migrasi 300jt manusia karena perubahan iklim yang akan membuat kekacauan geopolitik.

Hal itu dapat kita cegah dari hal yang kecil, mulai dari desain rumah yang baik dan ramah lingkungan, ujar Iwan Prijanto. Ketua GBC Indonesia, yaitu lembaga mandiri (non government) yang berkomitmen penuh terhadap pendidikan masyarakat dalam mengaplikasikan praktik-praktik terbaik lingkungan dan memfasilitasi transformasi industri bangunan global yang berkelanjutan.

Pada kesempatan ke-3, Ketua ISEI Lampung menanggapi dengan bahasa yang ringan dan dihiasi humor-humor ringan agar mudah diterima oleh para peserta. Beliau berharap, dampak pelonggaran LTV bisa membuat kemajuan di bidang pengembangan perumahan. Berdasarkan survey, 165 bidang usaha lain terpengaruh/terkait dengan bidang pengembangan properti. Jadi diharapkan, mengucurnya kredit konsumsi bisa menstimulus pembangunan rumah dan usaha lainnya. (Tanggapan lengkap ketua ISEI Lampung dapat diunduh di bagian bawah artikel)

Sesi tanya jawab Sosialiasi Kebijakan Makroprudensial di Sektor Properti pelonggaran LTV

Pada pukul 11.00, sesi tanya jawab dimulai, dengan Bapak Djoko Santoso Ketua DPD REI Lampung, mengambil kesempatan pertama untuk mengajukan pertanyaan/masukan. Disampaikannya, bahwa para ketua DPD REI Lampung acara pelonggaran LTV 2019pengembang perumahan tentunya menyambut dengan baik kebijakan pelonggaran LTV. Namun ada yang perlu digaris-bawahi adalah suku bunga perbankan tidak turun?. Kebijakan penurunan suku bunga acuan tidak diikuti oleh perbankan. Ini menyebabkan kesulitan-kesulitan bagi pengembang. Apalagi sedang masa konstraksi/kesulitan saat ini.

Hal kedua, dan hal yang lebih berkenaan dengan kebutuhan saat ini adalah penambahan kuota rumah subsidi. Kebutuhan rumah subsidi adalah kebutuhan nyata rakyat Indonesia.

Pengurangan kuota rumah subsidi menjadi ancaman terbesar bagi pengembang di tahun 2020. Di tahun 2019 kuota subsidi jauh dari cukup, dan malah akan dikurangi pada tahun 2020. Kebijakan ini berefek terhadap bidang usaha lain, yang telah disebutkan di forum bahwa 165 bidang usaha lain bisa berefek dengan 1 kebijakan.

Berkaitan dengan green building, Bapak Ketua REI DPD Lampung, menyampaikan mendukung sekali. Bercerita pengalamannya menggunakan “solar cell“. Namun, dari segi harganya masih jauh dari jangkauan banyak pihak dan layanan purna jual yang masih bisa terus ditingkatkan. Semoga para pihak dapat terus berinovasi sehingga usaha komulatif agar kerusakan lingkungan kita bisa kita terus perbaiki, termasuk dengan gedung berwawasan lingkungan.

Tak mau kalah dengan pimpinan BI Lampung, Ketua DDP REI Lampung diakhir, menyampaikan pantunnya, mungkin ditujukan terutama kepada Ibu Retno Ponco Windarti, yang sering bertemu dengan pemangku kebijakan di Departemen PUPR, dan pihak terkait lainnya. Dalam pantunnya, Beliau menitipkan agar “kuota subsidi dapat di tambah“.

Suasana seketika menjadi segar kembali dengan tepuk tangan riuh para peserta menandakan bahwa hal yang disampaikan adalah mengena dan baik.

Kemudian terdapat 2 pertanyaan dan penyampaian tentang green building dari seorang profesor dan dari dinas Provinsi Lampung. Dan ditutup oleh pertanyaan oleh pimpinan Bank Permata, “Bagaimana kebijakan BI agar LDR (loan to deposit Ratio) di Lampung tetap terjaga, karena banyak bank saat ini dikendalikan oleh pemodal asing, yang ditenggarai “malas” untuk mengeluarkan kredit pinjaman untuk dunia usaha, dan lebih menyukai memasarkan pinjaman berupa produk-produk?”.

Terhadap tanggapan/pertanyaan DPD REI Lampung, Retno Ponco Windarti, Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan yang bertujuan menjaga kestabilan sistem keuangan Indonesia. Kebijakan ini terkait juga dengan kebijakan-kebijakan lain. Semoga stimulus stimulus yang telah dikeluarkan dapat mencerahkan mendungnya keadaan ekonomi. Terkait kebijakan kuota subsidi, lebih kearah kebijakan Departemen PUPR dan Departemen Keuangan, namun juga tetap menjadi perhatian khusus dari Bank Indonesia.

Tepat pukul 11.55 semua tanggapan telah disampaikan oleh pemateri, dan acara sosialiasi Kebijakan Makroprudensial di Sektor Properti yaitu pelonggaran LTV selesai ditutup pada pukul 12.00.

Silahkan unduh untuk materi lengkap : https://drive.google.com/open?id=17frQ5ooTX31t0mrR2AHCnq-MVJNx_UE0.

Semoga dengan acara sosialisasi pelonggaran ltv 2019 ini, para pengembang dapat bersiap menyikapi kemungkinan yang timbul akibat dikecilkannya besaran uang muka untuk properti. Majulah Indonesia.

img

dpdreilampung

Pos terkait

Sosialisasi Program BP2BT

...

lanjutkan membaca
oleh Appyta wulan

BIMTEK PPATK “Prinsip Mengenal Pengguna Jasa Dan Tata Cara Pelaporan Bagi Perusahaan Properti”

...

lanjutkan membaca
oleh Appyta wulan

Halal Bi Halal Keluarga Besar DPD REI Bersama Mitra

...

lanjutkan membaca
oleh Appyta wulan

Bergabunglah dengan Diskusi

Chat dengan kami
Butuh Info?
Hai,
Ada yang bisa kami bantu?
Powered by